Tapi tak cukup bagi satu orang yang serakah
Orang serakah hidup untuk makan
Sedang orang normal makan untuk hidup
Saat kita dalam keadaan susah
Kita merasa yang tersusah di dunia
Namun saat mendapatkan kesenangan
Kita masih saja ingin seperti orang lain
Menjadi dermawan, tak perlu menunggu kaya
Sebab belum tentu menjadi kaya
Sedang untuk meminta . . .
Tunggulah saat benar-benar perlu
Sesusah apapun kita
Pasti ada yang jauh lebih susah
Dan sekaya apa pun kita
Pasti merasa belum puas
Maka, rasakanlah cukup apa yang ada
Daripada apa yang tidak ada
Dan tetaplah maraih apa yang dicita
Sambil bersyukur atas apa yang ada
Salah satu sifat yang di karuniakan Allah SWT kepada manusia adalah sifat keluh kesah. "Apabila manusia ditimpa kesusahan ia bekeluh kesah" (Q.S Al Ma'arij 70 : 20). Pertanyaannya, apakah semua kesusahan yang menimpa manusia memang harus disikapi dengan keluh kesah, dan apakah setiap kesusahan itu pasti jelek akibatnya?
Jawaban untuk dua pertanyaan tersebut adalah tidak harus, dan tidak pasti. Bisa jadi, kesusahan yang dihadapi manusia justru membawa kebaikan dan hikmah yang positif bagi dirinya. Ada ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa pemahaman manusi tentang akibat dari suatu kejadian sangatlah terbatas, yang tahu secara keseluruhan hanyalah Allah SWT. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Q.S Al Baqarah 2: 216)
Berkaitan dengan hal ini, Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi mengungkapkan bahwa Allah memelihara manusia bukan saja dengan kegembiraan tetapi juga dengan kesedihan. Allah mengurus kita tidak hanya dengan kenikmatan tetapi juga dengan penderitaan. Tujuannya supaya kita bisa mencapai perkembangan yang baik. orang-orang yang tidak pernah dipelihara dengan penderitaan biasanya tidak berkembang kearah kesempurnaan. Jalaludin pun mengingatkan bahwa kebaikan Allah kepada kita jauh lebih besar dari pada ujian-Nya dan kebaikan Allah itu tak pernah berhenti.
Sebagai bahan renungan, mari kita simak kisah menarik tentang seorang Dale Carnegie, pengusaha sukses Amerika serikat yang pernah mengalami kebangkrutan. Ketika usahanya bangkrut, ia diliputi keputusasaan dan berniat pulang ke kampung halamannya. Pada saat menyusuri tepi jalan, ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang tidak memiliki kaki, duduk di atas kursi roda. Ketika keduanya hendak menyebrang, orang di kursi roda itu berkata, " Lihat betapa indahnya pagi ini!" Dengan ragu, Carnegie menjawab, "Ya" . Ia lalu termenung memikirkan apa yang baru saja dikatakan orang itu. "Kenapa aku harus berputus asa hanya gara-gara bangkrut? Dia yang tidak memiliki kaki saja bisa memandang pagi ini dengan indah."
Akhirnya Carnegie pun tak jadi pulang. Lalu ia pergi ke Bank untuk mengajukan permohonan peminjaman modal. Ia lalu bekerja keras dan akhirnya sukses menjadi seorang Chief Executive Officer. Di kamarnya, ia memasang satu sajak yang di tulisnya sendiri.
I was blues
Because I had no shoes
Until off on the street
I met man without feet
Dahulu aku merasa sedih
Karena aku tidak mempunyai sepatu
Hingga di suatu ketika di pinggir jalan
Aku bertemu seorang pria tanpa kaki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar